Interaksi Kepada Tuhan

Sebagai maka kita ketahui secara nyata, tidaklah mudah untuk berpendapat siapakah manusia pertama yang ada di muka bumi ini. Kita dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua kita yang ternyata orang tua kita bukanlah orang yang pertama didunia. Masih banyak orang tua – orang tua yang lain bahkan banyak pula yang lebih tua dari orang tua kita. Lalu kita coba telusuri lebih jauh, kita kaji lebih lanjut dan lebih banyak lagi,………………………itupun tidak ditemukan secara pasti siapakah manusia pertama yang hidup dimuka bumi ini?

Kemudian mari kita perhatikan warna kulit kita. Ada yang berkulit putih, berkulit kuning langsat, berkulit sawo matang, bahkan sampai yang berkulit hitam. Kita perhatikan rambut manusia ada yang lurus, ada yang berombak, ada yang keriting. Keriting pun masih bermacam – macam lagi. Sedangkan warna rambutnya pun beragam pula. Masih ada tanda – tanda fisik yang lain yang makin membuat penasaran bagi kita untuk memastikan siapakah manusia pertama yang hidup dimuka bumi ini.

Kita perhatikan lagi tentang dimana manusia pertama tinggal dimuka bumi ini. Apakah di Indonesia, di Asia, di Australia, di Eropa, di Amerika atau di Afrika. Itu masih merupakan tanda tanya besar bagi kita. Belum lagi tentang bahasa lesan yang beraneka ragam yang makin melengkapi akan keterbatasan kita dalam memastikan diri untuk bisa tahu dengan pasti siapakah nenek moyang kita yang pertama kali hidup di dunia.

Mungkinkah sekaligus populasi manusia di dunia ini sudah dalam jumlah yang banyak dengan keaneka ragaman yang ada. Ataukah kita karena dalam keterbatasan dalam berbagai hal tak usah mencari terlalu jauh, menganggap terlalu tinggi, menggali terlalu dalam.

Terlepas dari itu semua sejak lahir kedunia manusia sebagai individu tidak bisa dalam kesendirian. Semenjak manusia dilahirkan di dunia perhatian terhadap sesamanya telah ada. Yang mula – mula diperhatikan adalah keluarganya, kemudian kerabatnya, tetangganya, teman – teman sepermainan. Pada awal perhatian itu bersifat naluriah yang timbul secara kuat untuk senantiasa hidup bersama dengan sesamanya.

Hubungan Interaksi teman – temannya, hubungan interaksi dengan tetangganya, hubungan interaksi dengan kerabatnya, hubungan interaksi dengan sesama anggota keluarganya tidak dapat dipisahkan dengan hubungan manusia dengan pribadinya.

Secara sederhana dilihat dari asal usul kejadiannya bisa kita gambarkan sebagai berikut :

———– TUHAN ———
—————- | ————-
AYAH —— | —— IBU
—————- |————-
—————- |————-
———– ALAM ———–
Gamblang sekali bahwa 4 andil yang ada tersebut mutlak harus ada satu sama lain tidak bisa dipisahkan.

4 andil yang berperan mutlak terhadap keberadaan kita patut kita hayati untuk membantu kita dalam merefleksi diri kita dalam rangka membangun kesadaran kita secara bertahap namun pasti tentang asal usul kita. (dalam bahasa jawanya Purwaning Dumadi).

Peran (andil) Ayah, Ibu, Tuhan dan Alam mutlak tidak bisa kita pungkiri lagi. Kalau toh ada andil dari yang lain – lainnya untuk sementara ini belum kita bicarakan lebih dahulu.

Selama ini dalam kesibukan kita sehari – hari mungkin belum sempat kita menjangkau kesana. Marilah kita fokuskan perasaan dan pikiran kita menganalisa, memperhatikan dan merenungi hal – hal tersebut. Yang datang dari Tuhan yang berasal dari kedua orang tua kita dan yang kita dapatkan dari Alam telah menyatu dalam diri kita, merupakan sesosok manusia dengan keberadaannya.

Dari yang sederhana dulu kita bicarakan yaitu asal usul kita dari orang tua kita. Kita berasal dari kedua orang tua kita. Dan kedua orang tua kita berasal pula dari ayah dan ibu mereka dan seterusnya yang kalau digambarkan nantinya akan seperti kerucut keatas.

Kita mewarisi banyak hal dari orang tua kita. Yang asli kita mewarisi segala sesuatu yang bersifat menurun dari orang tua kita baik secara fisik maupun mental. Bentuk / postur tubuh kita dengan segala kebaikan dan kekurangannya serta kelemahannya, perilaku, watak, dan tingkah laku kita. Dan warisan itu kita terima tanpa ditanyakan lebih dahulu kepada kita tentang kesiapan diri kita, kita harus terima dengan apa adanya.

Warisan itu melekat pada diri kita. Sehubungan dengan itu kita pun mewarisi tentang dosa dan kesalahan namun juga dari hal amal dan ibadah dan sebagainya ditinjau dari akibat langsung dari yang kita terima.

Jadi yang ada pada kita merupakan pemberian dari orang tua kita. Secara jelas pula mutlak adanya hubungan antara orang tua kita dengan Tuhan dan orang tua kita dengan alam dengan segala isinya dan keberadaannya.

Marilah saudara – saudara kita renungkan yang mendalam tentang itu semua yaitu segala sesuatu yang berhubungan antara :
1. Ayah dan Ibu
2. Ayah dan Ibu dengan Tuhan
3. Tuhan dengan Alam
4. Ayah dan Ibu serta Tuhan dengan Alam
5. Apa yang hendaknya kita lakukan sehubungan dengan yang kita warisi dari orang tua kita?

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s